Featured post

1 jendral, 26 prajurit.

Satu Jendral. 26 Prajurit. Kami berjingkat-jingkat di atas rapuhnya rasa, merangkai aksara bersinergi demi makna

Buat saya, “kata” adalah analogi yang sempurna bagi konsep “sinergi”. Ketika satu aksara “y” atau “a” berdiri sendiri, mereka kosong saja, hanya mewakili dirinya sendiri. Namun gabungkan menjadi “ya”, dan seketika menjadi sebuah kata yang menandakan persetujuan.

Maka kini saya mengajak 26 prajurit aksara untuk menari bersama, menerjemahkan hasil olahan sel abu-abu di kepala saya menjadi berbagai konfigurasi.

Silakan disambi menyeruput segelas teh hangat, mungkin juga sepotong pisang goreng.
Anggap rumah sendiri, lalu silakan menari bersama kami. 🙂

Advertisements

-perempuan-

beranjak tergopoh hampiri pintu ketika terdengar tapakmu mendekat, mencoba hapus penat harimu
maka berkisahlah :
akan kudengar, seperti yang kau mau
tersenyum untuk menangmu
mencaci sumber resahmu
akan kurengkuh kau, janjikan bahwa semua baik saja
janjikan aku akan selalu di sini
lalu rembulan menjadi lonceng peraduan,
sebelum akhirnya terlelap dalam pelukmu

Mengapa kau kecewa ketika diskusi intelektual bukan lagi ranahku?
toh memang tidak pernah sejak dulu
aku perempuan, pemberi rasa nyaman
sama seperti air susu ibu ketika kau bayi dulu

– ditulis 28 Oktober 2005, dengan sedikit perubahan –

-Kamu, tentang dia-

Kamu bicara tentang makhluk yang berdiam di hatimu
Senantiasa
Tentang bagaimana hatimu kini penuh sesak olehnya, dan tak ada lagi ruang untuk menampung gelisah

Kamu bicara tentang makhluk yang bayangnya tercermin di matamu
Selalu
Tentang bagaimana matanya selalu lapar akan kamu, dan tak ada lagi daya inginmu berlari darinya

Kamu bicara tentang makhluk yang menapak bersisian denganmu
Setiap waktu
Tentang bagaimana langit menjadi selalu teduh, dan hari tak pernah lagi terlalu berat untuk dijalani

Kamu terus bicara

Mendongeng dengan merdu sehingga bintang malam itu tergoda turut mendengar sembari bermain di matamu
Melagukan asa sehingga bulan malam itu tergetar untuk terangi jalanmu menujunya
Rasanya mereka mengagumi dirimu yang sedang bercerita,
sama seperti bagaimana kamu mengagumi dia yang menjadi obyek kisahmu

Aku berharap satu : semoga saat ini dia bicara tentang kamu sebagaimana kamu bicara tentang dia.

-selalu begini-

Selalu begini.

Debar yang saling berpacu membentuk irama tercepat.
Sesak yang tetiba memberangus setiap sisa udara hingga tercekat.

Selalu begini.

Raga yang meronta tanpa suara, membunyikan tanda bahaya entah untuk apa. Ya ya ya, aku dengar, lalu kenapa?
Tanda tanya yang jatuh bertubi, membelit logika menyisa uap. Menyisa malam. Menyisa bulan dan bintang bermain adu pendar tanpa tahu apa-apa. Tanpa tahu disini ada raga meronta.

Selalu begini.

Mungkin hanya insomnia. Mungkin hanya lelah. Mungkin hanya sekelumit drama, penghabisan sebelum berakhir kuota 24 jam hari ini. Mungkin, mungkin dan mungkin.
Sudah jangan tambahkan lebih banyak ragu disela kabut ini. Selaput abu-abu seharusnya membantu kita berpikir, alih-alih justru menyarukan logika dengan entah apa.
Sudah.

Selalu begini.

-sangkal-

Satu hari nanti semoga yang kuingat bukan cuma janjimu, tapi juga ingkarannya
Satu hari nanti semoga yang kukenang bukan cuma anganku, tapi juga kenyataannya

-untuk mereka yang memilih terpenjara dalam penyangkalan