Category Archives: perih

-sangkal-

Satu hari nanti semoga yang kuingat bukan cuma janjimu, tapi juga ingkarannya
Satu hari nanti semoga yang kukenang bukan cuma anganku, tapi juga kenyataannya

-untuk mereka yang memilih terpenjara dalam penyangkalan

-bongkar-

Ketika telah terangkat jangkar,
Terhuyung kapal jadi mainan
Gelombang, surut dan pasang

Wahai nahkoda, tolong perlahan
Jangan terburu, usah tergesa
Berundinglah sejenak bersama bintang

Angin berhembus senantiasa
Berkonspirasi dengan semesta
Mengantar kapal hingga labuhnya

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

-perih-

malam ini cuma perih saja adanya..
tapi tidak katakan banyak
logika sudah permisi tadi
beranjak untuk meniti langit
maka rasa saja yang tinggal,
lahirkan kepompong-kepompong jernih yang jatuh dan pecah jadi kupu-kupu
tidak bisa berkata banyak tentang aku
atau kamu,
hanya perih yang terucap

-8 Desember 2008-

-kompromi-

ternyata kata cuma kumpulan aksara
saling bersisian dalam konfigurasinya
tanpa asosiasi dan tanpa makna
tetap tak mampu sampaikan rasa
tetap lumpuh ketika harus salurkan asa

sedari tadi hati dan otakku mencoba susun dua puluh enam aksara yang tersedia supaya bisa sampaikan apa yang kurasa.
tapi rupanya mereka berbeda bahasa.

maaf jika untuk bincang-bincang kali ini aku cuma mampu tawarkan sunyi.
otak dan hatiku belum mampu kompromi.

-wanita vs perempuan-

bolehkan aku tertawa meski aku punya vagina?
bolehkan aku nikmati malam dengan rokok kopi dan cemilan,
dengan diskusi dan lawakan,
dengan kawan atau lawan?

bolehkan aku merasa meski aku punya vagina?
bolehkan aku marah berteriak, tidak hanya terisak
bolehkan aku menggugat merombak melawan bahkan merusak.

bolehkan aku berjuang meski aku punya vagina?
bolehkan aku bela jiwaku karsaku seperti kau harap kubela anakku.
bolehkan aku bela apa yang keluar dari kepalaku sebagaimana kubela yang keluar dari…

bolehkan aku HIDUP meski aku punya vagina?

bolehkan aku jadi tidak sebatas vagina!

2 Juni 2006

-permisi-

warna terpudarkan sang waktu, tersisa kelabu meraja
bersama dirimu ia temani perjalanan mencari pelangi
di ujung sana : janji. sebuah pelita
serta rasa yang mengkristal demi membias sinar

namun bagimu aku musafir sekedar permisi
sedangkan bagiku jalanmu pelangi

-post power syndrome-

laci-laci di belakang kepalamu,
penuh mimpi-mimpi usang dan harap yang terbuang
sisa jaya muda sebelum senja membayang
sisa lugu ketika mentari di puncak hari
sekali-kali ingin juga kau lihat kembali
mengenang, meski lalu perih
lalu di luar jendela, senja sudah lewat
mengajakmu menyapa malam sebelum berucap selamat tidur

12 april 2006, 09.20 pagi

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!