Category Archives: kontemplasi

-satu-

Terkadang memang tidak ada yang lebih mewah dari hening. Terbebas sejenak dari remah-remah teknologi dan bisingnya hari.
Terkadang memang tidak ada yang lebih nikmat dari bergumul dengan diri. Menaklukan dan mengakrabinya, sang kawan sekaligus lawan sejati.

Bebas dari distorsi. Melepas ekspektasi. Tanpa pretensi.

Terkadang memang tidak ada yang lebih meriah daripada sunyi. Bersoraklah. Cuma aku disini. Namun tidak sepi.

-keluar dari Jakarta-

ternyata aku tidak merindu teknologi
remah-remah hidup yang berkedok modernisasi
rupanya cukup kopi dan roti
tertawa sambil menghirup udara pagi
cukup tangan dan kaki
untuk ajak aku selesaikan hari

rupanya tak perlu televisi
untuk temani waktu berganti

rupanya cuma butuh kalian, teman
cerminan serpih jiwa
untuk ajak aku tersenyum hari ini

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

-dan ironiskah, ketika tulisan ini diposting dari salah satu benda remah-remah teknologi? :p-

-renungan lebaran-

mungkin lebaran jadi titik balik,
pemicu untuk kembali fitrah seterusnya,
atau cuma perayaan sesaat sebelum kembali larut dalam hari biasa.
toh hari berganti dan kita tetap sama,
insan biasa yang coba temukan tempatnya di dunia.
Manusia tidak sempurna dan penuh luka,
dan begitupun saya…
Maka coba hapus lukamu, jika ada karenaku.
Kikis perlahan dendam agar lebih sempurna jiwa.
Selamat hari raya.
Selamat kembali fitri.
Meski mungkin cuma untuk satu hari.

-23 Oktober 2006-

-maknai hari-

Langkah terasa berat saja dan matahari hanya bisa menatap

Apa katanya ketika seribu langkah telah membekaskan diri di bumi?
Seribu langkah yang minta dimaknai.
Siapa pula yang paling tepat maknai kalau bukan matahari?

Tanah hanya obyek dan kaki cuma subyek.

Tapi matahari kenal tanah ketika belum terlangkahi dan tahu kaki ketika belum pernah melangkah.

Seribu langkah masih menjerit, minta dimaknai sebelum bekasnya tersapu angin.
Sebelum bertambah langkah baru yang (juga) minta dimaknai.

Angin semakin keras tapi belum ada suara.

Hening.

Ternyata petang.
Matahari beranjak pergi temukan maknanya sendiri.

21 Maret 2006

-carpe diem-

tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok
waktu berjalan…dan tiga ratus enam puluh lima hari siap dibundel jadi satu untuk diberi label ‘tahun lalu’. sama instantnya dengan dua puluh empat jam dibundel jadi satu untuk diberi label ‘kemarin’.
orang-orang kini mulai sibuk. menyimpulkan dan bertanya.
tahun lalu adalah… bagaimana tahun depan. menyimpulkan dan bertanya. ke diri sendiri dan ke orang lain. seolah-olah begitu penting. ‘kita perlu menyimpulkan kemarin, karena kita belajar dari masa lalu’, katanya. ‘kita perlu rencanakan esok, karena kita butuh pedoman’, ucapnya.
kenapa? kenapa kesampingkan hari ini? kenapa kecilkan makna ’sekarang’?

sekarang adalah pilihan. sekarang adalah tindakan. bukan angan atau kenangan.

-28 Desember 2005-