Category Archives: hari

-satu-

Terkadang memang tidak ada yang lebih mewah dari hening. Terbebas sejenak dari remah-remah teknologi dan bisingnya hari.
Terkadang memang tidak ada yang lebih nikmat dari bergumul dengan diri. Menaklukan dan mengakrabinya, sang kawan sekaligus lawan sejati.

Bebas dari distorsi. Melepas ekspektasi. Tanpa pretensi.

Terkadang memang tidak ada yang lebih meriah daripada sunyi. Bersoraklah. Cuma aku disini. Namun tidak sepi.

-jatuh cinta-

Aku jatuh cinta pada setiap tetes air mata langit, yang terpantul pada kerasnya aspal sebelum lalu binasa…
Juga pada cinta semesta yang terikut bersamanya

Aku jatuh cinta pada gigihnya geliat sang surya, yang menyelisip diantara saput gumpal mega…
Juga pada janji untuk kembali esok harinya

—rasanya kurang adil apabila saya tidak menampilkan juga puisi teman saya yang manis ini, yang menjadi pemicunya. Puisi ini bagian dari serangkaian puisi berantai di komunitas Boendel Kata.

Aku jatuh cinta pd langit gelap yg sesekali menyala, dan jalanan basah yg memantulkan redup lampu merah kuning.. Juga pdmu yg hilang di dlmnya..

-beku-

Hari ini terlalu dingin untuk kata-kata
Dan aku mencemasnya,
terlempar hanya untuk beku di udara
Lalu terpenjara sebelum tiba waktunya
Mekar, menari, tertawa
Sisa asa semata

Pagi ini terlalu dingin untuk kata-kata
Maka biar bisu yang bicara
Biar mata berbahasa
Selagi kita beku dalam masa.

-reality bites-

meminjam sebuah judul film untuk posting kali ini, perbincangan hari ini dengan seorang kawan lama menggelitik unsur berwarna abu-abu di kepala gue, tentang sebuah kontemplasi masa lalu, yang ternyata semakin mengkristal saat ini :

aku rindu dunia, katanya
ia bicara sambil berbaring telentang
tangan terlipat alasi kepalanya
dan matanya penuh cerminan bintang malam itu
aku rindu begini,
berbaring saja resapi semua tanpa perduli semua
lupakan deadline macet tanggung jawab dan peran.
ia bicara sambil pejamkan mata,
tersenyum sekilas ketika angin selewat lalu.
lalu ia diam tak bicara lagi…
hanya senyumnya tersisa selagi ia terbang dengan angan.
hidupi sejenak mimpi-mimpinya.
tiba-tiba ia bangkit dan berdiri, lalu berlari.
kenapa?
katanya, hidup memanggilku barusan.
mimpi bisa menunggu nanti.

-9 Februari 2008-

-another phase of existentialism angst-

kaki ini tak mau diam, gatal telapak ingin terus jejaki tanah baru, jelajah ranah asing dan resapi setiap dekik tonjolnya.

hati ini tak rela katup, nyalang meronta harap terus alami hal baru, jamah kisah asing dan endapi setiap tawa tangisnya.

lalu mengapa setiap terbit mentari mata ini menolak menyapanya, seolah ingin sembunyi bertameng mimpi agar tak perlu terjejali rasa pahitnya hidup?

-23 November 2007-

-penjara berdinding kaca-

joni di lantai dua puluh tiga, memandang jauh ke luar jendela. hanya langit biru menyapa ditemani awan tanpa noda.
burung-burung terbang…dan daun terbang…andai joni bisa terbang.
dinding kubikel menyempit, joni terhimpit, ingin menjerit.
lalu berdiri
lepaskan alas kaki
berlari
tabrakkan diri
kaca berserpih

terbanglah joni!

tapi..

jon, tolong sebelum jam lima nanti ke meja saya untuk diskusi

sayap joni patah lagi.
-8 Juli 2006-

-maknai hari-

Langkah terasa berat saja dan matahari hanya bisa menatap

Apa katanya ketika seribu langkah telah membekaskan diri di bumi?
Seribu langkah yang minta dimaknai.
Siapa pula yang paling tepat maknai kalau bukan matahari?

Tanah hanya obyek dan kaki cuma subyek.

Tapi matahari kenal tanah ketika belum terlangkahi dan tahu kaki ketika belum pernah melangkah.

Seribu langkah masih menjerit, minta dimaknai sebelum bekasnya tersapu angin.
Sebelum bertambah langkah baru yang (juga) minta dimaknai.

Angin semakin keras tapi belum ada suara.

Hening.

Ternyata petang.
Matahari beranjak pergi temukan maknanya sendiri.

21 Maret 2006