Category Archives: gelisah

-selalu begini-

Selalu begini.

Debar yang saling berpacu membentuk irama tercepat.
Sesak yang tetiba memberangus setiap sisa udara hingga tercekat.

Selalu begini.

Raga yang meronta tanpa suara, membunyikan tanda bahaya entah untuk apa. Ya ya ya, aku dengar, lalu kenapa?
Tanda tanya yang jatuh bertubi, membelit logika menyisa uap. Menyisa malam. Menyisa bulan dan bintang bermain adu pendar tanpa tahu apa-apa. Tanpa tahu disini ada raga meronta.

Selalu begini.

Mungkin hanya insomnia. Mungkin hanya lelah. Mungkin hanya sekelumit drama, penghabisan sebelum berakhir kuota 24 jam hari ini. Mungkin, mungkin dan mungkin.
Sudah jangan tambahkan lebih banyak ragu disela kabut ini. Selaput abu-abu seharusnya membantu kita berpikir, alih-alih justru menyarukan logika dengan entah apa.
Sudah.

Selalu begini.

-another phase of existentialism angst-

kaki ini tak mau diam, gatal telapak ingin terus jejaki tanah baru, jelajah ranah asing dan resapi setiap dekik tonjolnya.

hati ini tak rela katup, nyalang meronta harap terus alami hal baru, jamah kisah asing dan endapi setiap tawa tangisnya.

lalu mengapa setiap terbit mentari mata ini menolak menyapanya, seolah ingin sembunyi bertameng mimpi agar tak perlu terjejali rasa pahitnya hidup?

-23 November 2007-

-sumpek-

hari berganti hari tak terhitung lagi dan dia lupa bahwa dia manusia, lupa bahwa dia berhak atas kebebasan dan waktu luang, bahwa hidup bukan cuma kerja tidur dan makan, bahwa ada emosi berjudul ceria, bahwa ada ekspresi bernama tawa.

waktu berlalu tak terekam lagi dan mereka lupa bahwa dia pernah tertawa bahwa dia pernah bahagia dan bahwa dia manusia. lalu detik demi detik berjalan meninggalkan dia, meninggalkan satu manusia yang lupa akan dirinya, meninggalkan haknya tanpa jejak untuk dijejalkan kedalam waktu semu yang disisakan oleh mereka baginya.

hari yang cuma dua mereka sebut kebebasan yang mereka berikan sehingga dia lupa bahwa sebelum itu dia punya tujuh hari yang memang ADA tanpa perlu diberikan siapa-siapa. waktu yang cuma satu jam mereka sebut istirahat yang mereka berikan sehingga dia lupa bahwa sebelum itu dia tak perlu istirahat karena tak pernah merasa lelah atau penat.

dan kini dia bahagia cukup dengan belanja atau pandangi kotak segi empat dengan gambar berjalan bersuara, puas dengan berjalan pandangi benda-benda yang tak mampu dibelinya dan tersenyum ketika bisa lelap lebih dari enam jam. dia lupa bahwa dulu ada yang namanya pertanyaan penasaran dan perjuangan, lupa bahwa ada emosi yang lebih dalam daripada tersenyum ketika keadaan menuntutnya, lupa bahwa dia manusia.

siapa yang akan mengingatkan dia ketika ternyata di dunia ini sudah tak ada lagi manusia? cuma robot-robot kota yang digerakkan tangan tak kasat mata…

-17 Maret 2007-

… jeda ini cuma mampu bawa bisu. suatu ruang kedap yang tak terisi.

makna pun jauh dari momen ini. seketika kehilangan kapasitas untuk tampung muatan sedikitpun. cuma kosong.

iba aku pada aksara-aksara, pada gelisah dan kalut mereka ketika tiada cerita yang perlu dialir. mereka seperti prajurit siap perang, tapi belum punya alasan untuk maju…atau bahkan bertahan. menunggu dimaknai, berbaris siaga namun sayangnya tersia.

…aku ingin membuat teman-teman aksaraku ini menari lagi…aku ingin beri mereka hidup meskipun cuma satu detik staccato yang awalnya sekaligus menandai akhirnya…aku ingin hunus pedang penaku dan buat kertas putih ini berdarah, bersuara, menjerit, menangis, tertawa…

aku rindu kantin bobrok di pinggir jalan sudirman, dengan latar belakang musik yang terlalu keras hingga perlu berteriak untuk sekedar berbincang. aku rindu percakapan menjelang pagi tentang hidup, cinta dan cita-cita. aku rindu tawa keras, humor sarkastis dan penuh celaan. aku rindu koneksi. anggukan kecil dari ujung ruangan, sapaan selintas lalu yang cuma satu suku kata, lirikan kecil dalam suatu momen yang sungguhnya insignifikan. … tapi penuh makna.

-20 Januari 2007-

-istirahat di tempat : GRAK!-

Langkah ini sejenak terhenti.

Terlalu nyaman memang istirahat ini.

Melenaku saja,

nyalakan satu bara meski redupkan bara lain.

Tapi, lelah juga berdiri.

Statis yang hanya antarkan redupnya sinar mata.

Tumbuhkan ragu diri dan tanda tanya

dan sesekali jatuhkan aku…

dan sudah saatnya melangkah lagi ternyata!

…akankah istirahat senyaman ini di tempat lain?

-13 Januari 2007-

-wanita vs perempuan-

bolehkan aku tertawa meski aku punya vagina?
bolehkan aku nikmati malam dengan rokok kopi dan cemilan,
dengan diskusi dan lawakan,
dengan kawan atau lawan?

bolehkan aku merasa meski aku punya vagina?
bolehkan aku marah berteriak, tidak hanya terisak
bolehkan aku menggugat merombak melawan bahkan merusak.

bolehkan aku berjuang meski aku punya vagina?
bolehkan aku bela jiwaku karsaku seperti kau harap kubela anakku.
bolehkan aku bela apa yang keluar dari kepalaku sebagaimana kubela yang keluar dari…

bolehkan aku HIDUP meski aku punya vagina?

bolehkan aku jadi tidak sebatas vagina!

2 Juni 2006

-post power syndrome-

laci-laci di belakang kepalamu,
penuh mimpi-mimpi usang dan harap yang terbuang
sisa jaya muda sebelum senja membayang
sisa lugu ketika mentari di puncak hari
sekali-kali ingin juga kau lihat kembali
mengenang, meski lalu perih
lalu di luar jendela, senja sudah lewat
mengajakmu menyapa malam sebelum berucap selamat tidur

12 april 2006, 09.20 pagi

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!