Category Archives: AKSARA

-Kamu, tentang dia-

Kamu bicara tentang makhluk yang berdiam di hatimu
Senantiasa
Tentang bagaimana hatimu kini penuh sesak olehnya, dan tak ada lagi ruang untuk menampung gelisah

Kamu bicara tentang makhluk yang bayangnya tercermin di matamu
Selalu
Tentang bagaimana matanya selalu lapar akan kamu, dan tak ada lagi daya inginmu berlari darinya

Kamu bicara tentang makhluk yang menapak bersisian denganmu
Setiap waktu
Tentang bagaimana langit menjadi selalu teduh, dan hari tak pernah lagi terlalu berat untuk dijalani

Kamu terus bicara

Mendongeng dengan merdu sehingga bintang malam itu tergoda turut mendengar sembari bermain di matamu
Melagukan asa sehingga bulan malam itu tergetar untuk terangi jalanmu menujunya
Rasanya mereka mengagumi dirimu yang sedang bercerita,
sama seperti bagaimana kamu mengagumi dia yang menjadi obyek kisahmu

Aku berharap satu : semoga saat ini dia bicara tentang kamu sebagaimana kamu bicara tentang dia.

-selalu begini-

Selalu begini.

Debar yang saling berpacu membentuk irama tercepat.
Sesak yang tetiba memberangus setiap sisa udara hingga tercekat.

Selalu begini.

Raga yang meronta tanpa suara, membunyikan tanda bahaya entah untuk apa. Ya ya ya, aku dengar, lalu kenapa?
Tanda tanya yang jatuh bertubi, membelit logika menyisa uap. Menyisa malam. Menyisa bulan dan bintang bermain adu pendar tanpa tahu apa-apa. Tanpa tahu disini ada raga meronta.

Selalu begini.

Mungkin hanya insomnia. Mungkin hanya lelah. Mungkin hanya sekelumit drama, penghabisan sebelum berakhir kuota 24 jam hari ini. Mungkin, mungkin dan mungkin.
Sudah jangan tambahkan lebih banyak ragu disela kabut ini. Selaput abu-abu seharusnya membantu kita berpikir, alih-alih justru menyarukan logika dengan entah apa.
Sudah.

Selalu begini.

-sangkal-

Satu hari nanti semoga yang kuingat bukan cuma janjimu, tapi juga ingkarannya
Satu hari nanti semoga yang kukenang bukan cuma anganku, tapi juga kenyataannya

-untuk mereka yang memilih terpenjara dalam penyangkalan

-satu-

Terkadang memang tidak ada yang lebih mewah dari hening. Terbebas sejenak dari remah-remah teknologi dan bisingnya hari.
Terkadang memang tidak ada yang lebih nikmat dari bergumul dengan diri. Menaklukan dan mengakrabinya, sang kawan sekaligus lawan sejati.

Bebas dari distorsi. Melepas ekspektasi. Tanpa pretensi.

Terkadang memang tidak ada yang lebih meriah daripada sunyi. Bersoraklah. Cuma aku disini. Namun tidak sepi.

-jatuh cinta-

Aku jatuh cinta pada setiap tetes air mata langit, yang terpantul pada kerasnya aspal sebelum lalu binasa…
Juga pada cinta semesta yang terikut bersamanya

Aku jatuh cinta pada gigihnya geliat sang surya, yang menyelisip diantara saput gumpal mega…
Juga pada janji untuk kembali esok harinya

—rasanya kurang adil apabila saya tidak menampilkan juga puisi teman saya yang manis ini, yang menjadi pemicunya. Puisi ini bagian dari serangkaian puisi berantai di komunitas Boendel Kata.

Aku jatuh cinta pd langit gelap yg sesekali menyala, dan jalanan basah yg memantulkan redup lampu merah kuning.. Juga pdmu yg hilang di dlmnya..

-beku-

Hari ini terlalu dingin untuk kata-kata
Dan aku mencemasnya,
terlempar hanya untuk beku di udara
Lalu terpenjara sebelum tiba waktunya
Mekar, menari, tertawa
Sisa asa semata

Pagi ini terlalu dingin untuk kata-kata
Maka biar bisu yang bicara
Biar mata berbahasa
Selagi kita beku dalam masa.