Category Archives: 2006

-kompromi-

ternyata kata cuma kumpulan aksara
saling bersisian dalam konfigurasinya
tanpa asosiasi dan tanpa makna
tetap tak mampu sampaikan rasa
tetap lumpuh ketika harus salurkan asa

sedari tadi hati dan otakku mencoba susun dua puluh enam aksara yang tersedia supaya bisa sampaikan apa yang kurasa.
tapi rupanya mereka berbeda bahasa.

maaf jika untuk bincang-bincang kali ini aku cuma mampu tawarkan sunyi.
otak dan hatiku belum mampu kompromi.

-renungan lebaran-

mungkin lebaran jadi titik balik,
pemicu untuk kembali fitrah seterusnya,
atau cuma perayaan sesaat sebelum kembali larut dalam hari biasa.
toh hari berganti dan kita tetap sama,
insan biasa yang coba temukan tempatnya di dunia.
Manusia tidak sempurna dan penuh luka,
dan begitupun saya…
Maka coba hapus lukamu, jika ada karenaku.
Kikis perlahan dendam agar lebih sempurna jiwa.
Selamat hari raya.
Selamat kembali fitri.
Meski mungkin cuma untuk satu hari.

-23 Oktober 2006-

-penjara berdinding kaca-

joni di lantai dua puluh tiga, memandang jauh ke luar jendela. hanya langit biru menyapa ditemani awan tanpa noda.
burung-burung terbang…dan daun terbang…andai joni bisa terbang.
dinding kubikel menyempit, joni terhimpit, ingin menjerit.
lalu berdiri
lepaskan alas kaki
berlari
tabrakkan diri
kaca berserpih

terbanglah joni!

tapi..

jon, tolong sebelum jam lima nanti ke meja saya untuk diskusi

sayap joni patah lagi.
-8 Juli 2006-

-wanita vs perempuan-

bolehkan aku tertawa meski aku punya vagina?
bolehkan aku nikmati malam dengan rokok kopi dan cemilan,
dengan diskusi dan lawakan,
dengan kawan atau lawan?

bolehkan aku merasa meski aku punya vagina?
bolehkan aku marah berteriak, tidak hanya terisak
bolehkan aku menggugat merombak melawan bahkan merusak.

bolehkan aku berjuang meski aku punya vagina?
bolehkan aku bela jiwaku karsaku seperti kau harap kubela anakku.
bolehkan aku bela apa yang keluar dari kepalaku sebagaimana kubela yang keluar dari…

bolehkan aku HIDUP meski aku punya vagina?

bolehkan aku jadi tidak sebatas vagina!

2 Juni 2006

-permisi-

warna terpudarkan sang waktu, tersisa kelabu meraja
bersama dirimu ia temani perjalanan mencari pelangi
di ujung sana : janji. sebuah pelita
serta rasa yang mengkristal demi membias sinar

namun bagimu aku musafir sekedar permisi
sedangkan bagiku jalanmu pelangi

-post power syndrome-

laci-laci di belakang kepalamu,
penuh mimpi-mimpi usang dan harap yang terbuang
sisa jaya muda sebelum senja membayang
sisa lugu ketika mentari di puncak hari
sekali-kali ingin juga kau lihat kembali
mengenang, meski lalu perih
lalu di luar jendela, senja sudah lewat
mengajakmu menyapa malam sebelum berucap selamat tidur

12 april 2006, 09.20 pagi

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

…akusuka…

aku suka suara daun kering di bawah sepatuku, gemerisik sayup yang goda telinga
aku suka suara kerupuk yang baru dimandikan kuah, perkusi tanpa nada yang mampu bangkitkan rasa
aku suka rasa cokelat pahit, sebuah paradoks mini ketika manis menjadi subyektif
aku suka rasa es krim di lidahku, kejutan yang mengajak aku tersenyum
aku suka bau daun teh yang baru direbus, kuhirup hingga habis penuhi jiwa
aku suka bau rumput sehabis hujan gerimis, kegembiraan mereka yang terpuaskan dahaganya
aku suka sentuh rambut yang keriting, permadani yang sembunyikan seribu rahasia
aku suka dibasuh air mengalir, hapuskan semua yang tak bersih dan kembalikan aku jernih
aku suka matahari yang menyelisip dari balik pohon, mengajak bermain dengan sinarnya
aku suka warna hijau cerah, keteduhan instan yang beri aku perlindungan
aku suka hidup. Meski tak selalu ku ingat itu.

-22 Maret 2006-

-maknai hari-

Langkah terasa berat saja dan matahari hanya bisa menatap

Apa katanya ketika seribu langkah telah membekaskan diri di bumi?
Seribu langkah yang minta dimaknai.
Siapa pula yang paling tepat maknai kalau bukan matahari?

Tanah hanya obyek dan kaki cuma subyek.

Tapi matahari kenal tanah ketika belum terlangkahi dan tahu kaki ketika belum pernah melangkah.

Seribu langkah masih menjerit, minta dimaknai sebelum bekasnya tersapu angin.
Sebelum bertambah langkah baru yang (juga) minta dimaknai.

Angin semakin keras tapi belum ada suara.

Hening.

Ternyata petang.
Matahari beranjak pergi temukan maknanya sendiri.

21 Maret 2006

-kuning-

ingin aku berlari telanjang kaki kutendangkan ke atas hingga tanggal sepatuku, terbang melayang menimpa kepalamu.
kamu berteriak, terkejut dan marah,
tapi tak terdengar olehku.
aku sudah jauh,
sibuk dengan tanah dan debu meresap di antara jemari bersama gembiraku,
sibuk dengan angin yang sentuh setiap jengkal kulit dan keberadaanku,
sibuk hirup udara dan hidup.
aku terus berlari hingga entah dimana
terus hingga seberangi benua, seberangi samudera
terus hingga tanah ini akrab sudah denganku
terus hingga tak ada lagi yang baru.
lalu aku berkata cukup.

 -8 Februari 2006-