Category Archives: 2005

-perempuan-

beranjak tergopoh hampiri pintu ketika terdengar tapakmu mendekat, mencoba hapus penat harimu
maka berkisahlah :
akan kudengar, seperti yang kau mau
tersenyum untuk menangmu
mencaci sumber resahmu
akan kurengkuh kau, janjikan bahwa semua baik saja
janjikan aku akan selalu di sini
lalu rembulan menjadi lonceng peraduan,
sebelum akhirnya terlelap dalam pelukmu

Mengapa kau kecewa ketika diskusi intelektual bukan lagi ranahku?
toh memang tidak pernah sejak dulu
aku perempuan, pemberi rasa nyaman
sama seperti air susu ibu ketika kau bayi dulu

– ditulis 28 Oktober 2005, dengan sedikit perubahan –

-carpe diem-

tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok
waktu berjalan…dan tiga ratus enam puluh lima hari siap dibundel jadi satu untuk diberi label ‘tahun lalu’. sama instantnya dengan dua puluh empat jam dibundel jadi satu untuk diberi label ‘kemarin’.
orang-orang kini mulai sibuk. menyimpulkan dan bertanya.
tahun lalu adalah… bagaimana tahun depan. menyimpulkan dan bertanya. ke diri sendiri dan ke orang lain. seolah-olah begitu penting. ‘kita perlu menyimpulkan kemarin, karena kita belajar dari masa lalu’, katanya. ‘kita perlu rencanakan esok, karena kita butuh pedoman’, ucapnya.
kenapa? kenapa kesampingkan hari ini? kenapa kecilkan makna ’sekarang’?

sekarang adalah pilihan. sekarang adalah tindakan. bukan angan atau kenangan.

-28 Desember 2005-

-Jakarta Siang Ini-

hari ini matahari bakar Jakarta
tanpa ampun seperti hendak balas dendam yang lama tertunda
beri sedikit rasa neraka untuk para calon penghuninya
tapi mereka cuma tertawa
katanya, aku tak takut neraka. dia ada di setiap jengkal keberadaanku.
lalu mereka kembali lagi jalani hari
menyebrang jalan dan mencari makan

… 9 desember 2005, di pusat kota Jakarta

-siapa disana-

Belum lelah nampaknya sepi bergayut di sini,
dalam beratnya pelupuk mata ia mencegahku terjaga.

Mengapa tak coba bersuara?

Tak perlu bicara, gumam pun tak apa.
Cuma ingin tahu kau masih di sana
Usik lelapku sedikit, tapi tak apa

Aku lebih suka yang nyata daripada mimpi belaka.

-hari-

dua puluh empat jam yang selalu penuh
dua puluh empat jam yang bisa jadi keruh
dua puluh empat jam yang utuh
satu hari lagi lewat namun ternyata tidak hanya sekedar berkata permisi
satu kesatuan yang memecah diri jadi serpih-serpih mungil
timbulkan percik sinar di mata…mungkin juga tetes air
hari ini aku disini, besok mungkin tidak
hari ini aku, besok mungkin bukan

20 November 2005

-fatamorgana-

aku terpaku sadari semua cuma nyata di benakku
rasa ini mungkin cuma fatamorgana
dan kamu mungkin cuma satu orang lagi numpang permisi di kisah hidupku
namun biarlah jika memang demikian
untuk apa tangisi bulan yang sabit?
toh sebelumnya pernah purnama

suatu hari nanti semoga yang kuingat janjimu, bukan ingkarannya
suatu hari nanti semoga yang kuingat cinta, bukan kenyataannya

-mengapa-

Mengapa perjuangkan nyaman semu dan sementara,
Ketika ada yang nyata abadi?

Mengapa bertahan dalam geliat jiwa terusik,
Ketika dapat beranjak?

Mengapa memilih jalan di tempat,
Ketika tujuan sudah terlihat?

Mengapa tidak mencari satu bintang,
Mumpung malam masih panjang?

-circa 2005

-sejuta sinar-

Sejuta berkas sinar terbias dihadapan mata
Memanjakan indera-indera
Terlalu banyak yang harus diresapi,
Hingga adakalanya hati ingin meluncur saja

Namun hidup terbentuk oleh
Segala yang meresap di jiwa
Segala yang merasuk di kalbu

Semua yang mengajak aku benam
Jauh ke dalam

Semua yang memaksa berontak
Saat diri mulai sesak

Dan aku merasa hidup.
Aku ada.
Walaupun tidak sempurna dan penuh luka,
Tapi nyata
Bisa dirasa dan dapat merasa

-circa 2005

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!